Ikatan
Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) pada masa sekarang ini bisa dikatakan telah
mengalami dekadensi jati dirinya sebagai ruh aslinya. Pasalnya, sebagai
organisasi, kepribadian IMM sendiri paling tidak telah dirasuki dan dikemudikan
oleh kepribadian orang-orang yang menyetirnya. Tidak lagi mengikuti fungsi,
pribadi dan peran sesungguhnya dari IMM, melainkan mengikuti tujuan dan sifat
individu-individu yang ada didalamnya yang tidak lagi semata-mata relevan dengan
kehendak lahirnya IMM. Kekrisisan jati diri dan identitas ini yang sekiranya
meresahkan sebagian kader ikatan yang mulai sadar akan perubahan fungsi yang
berangsur-angsur transparan dan mulai kontras terhadap kondisi faktual.
Secara wujud, bentuk
identitas IMM pada diri kader dapat dibagi menjadi 2 (dua), [1] Pertama,
identitas Fisik, yakni identitas yang hanya mencakupi bentuk-bentuk fisis yang
tampak dari tubuh kader IMM, yang meliputi semua bentuk atribut yang
menunjukkan diri kader IMM secara fisis, seperti baju, topi, dsb, [2] Kedua,
identitas Nilai, yakni identitas yang nampak dan menunjukkan dirinya sebgai
kader IMM, melalui ucapan, sikap maupun pengabdian yang dilakukan seorang kader
IMM dalam ikatan.
Adalah sangat
baik andai jika kedua bentuk Identitas ini tertanam dalam diri setiap individu-individu
yang mengisi rongga-rongga dalam ikatan. Namun pada kenyataannya tidaklah
seperti itu. Dalam beberapa kasus contohnya, banyak kader IMM yang hanya sekedar
menunjukkan Identitas Nilai Pengakuan dirinya dalam bentuk ucapan semata sebagai
kader IMM, tetapi tidak disertai dengan perbuatan serta pengabdiannya terhadap
IMM dan dikuatkan dengan Identitas Fisiknya. Padahal yang terpenting dan diharapkan sebenarnya adalah
bagaimana kontribusi yang besar dapat lahir dari bentuk pengakuan identitas diri,
yang kemudian dikuatkan dengan Identitas Fisiknya sebagai kader IMM. Identitas Fisik
dan Identitas Nilai Pengakuan diri sebenarnya hanyalah bentuk penunjang agar
ghirahnya dalam mengejar cita-cita kehidupan IMM yang diimpi-impikan bersama dapat
selalu ter-UpGrade secara berkala, sehingga Identitas Fisik dan Identitas Nilai
ini tidak hanya sekedar bentuk pengakuan diri, melainkan timbul Identitas Nilai
yang Terakui. Hal inilah yang menjadi penting sebenarnya, bagaimana
ensistensinya sebagai kader IMM dapat diakui pihak lain dengan bentuk
kontribusinya terhadap ikatan sehingga eksistensinya sebagai kader terakui.
Dari kasus ini,
perlu dipertanyakan pula bahwa sebenarnya, Apa yang menjadi Identitas sesungguhnya
bagi kader IMM? Apa kaitannya identitas-identitas pribadi kader IMM sekaligus
tujuannya ber-IMM dengan Identitas Qadim pada IMM?? Bagaimana sesungguhnya wujud
identitas itu lantas dapat diterapkan dalam ber-IMM??? Jika sudah dirasuki oleh
ideologi IMM, lantas apakah kader sudah dapat menggunakan ideologi itu sebagai
identitas dirinya?? Di sini yang patut digaris bawahi dan menjadi jawaban abstrak
dari semua pertanyaan di atas adalah “Seberapa jauh ideologi IMM telah merasuki
dan terdoktrin dalam tubuh kader IMM itu sendiri”.
Pengertian Ideologi
pada dasarnya memang hanyalah sebatas gagasan dasar yang dihayati sebagai pegangan
dan pola pandang terhadap sesuatu. Namun jika didinamisasikan dalam konteks
ideologi IMM, pengertian ideologi bukan lagi menjadi esensi aslinya sebagai
arti ideologi, tetapi pengertian ini berganti wujud sesuai dengan wadah yang
telah dibentuk atas kehendak IMM itu sendiri. Seperti bentuk air yang
senantiasa selalu mengikuti bentuk wadahnya, begitulah bentuk ideologi dalam
perspektif IMM. Maksudnya, ideologi IMM bukanlah hanya sekedar pegangan yang
mendasari pergerakan IMM yang harus dihafalkan tulisannya, namun sadar tidak
sadar ideologi IMM memiliki dualisme peranan, yang disamping berfungsi sebagai
motor penggerak di IMM, tetapi juga berfungsi sebagai karakter diri (dalam
artian Identitas diri) seluruh kader IMM. Hal inilah yang sering terlupakan
oleh kader IMM.
Religius,
Intelektual dan Humanis. Ketiga aspek inilah yang menjadi ciri khas bagi diri
kader IMM. Disamping menjadi tujuan bahwa kader IMM haruslah religius,
berintelektual tinggi serta berjiwa Humanis, ketiga aspek ini setidaknya
merangkap pula sebagai karakter diri sehingga terpancar identitas diri kader
IMM sebagai Identitas Nilai yang terakui.
Yang terpenting
dari semuanya adalah, Identitas Diri kader IMM tidak hanya sekedar menunjukkan
eksistensi diri dari segi Identitas Fisik semata (berpenampilan), tetapi juga
yang paling penting adalah dari segi Identitas Nilai yang lahir karena diakui
(terakui & bukan mengakui), yang berangkat dari penerapan Trilologi sehingga
memancarkan karakteristik yang menjadi identitas diri kader yang sesungguhnya.

Post a Comment