Thursday, March 19, 2015

KRISIS IDENTITAS

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) pada masa sekarang ini bisa dikatakan telah mengalami dekadensi jati dirinya sebagai ruh aslinya. Pasalnya, sebagai organisasi, kepribadian IMM sendiri paling tidak telah dirasuki dan dikemudikan oleh kepribadian orang-orang yang menyetirnya. Tidak lagi mengikuti fungsi, pribadi dan peran sesungguhnya dari IMM, melainkan mengikuti tujuan dan sifat individu-individu yang ada didalamnya yang tidak lagi semata-mata relevan dengan kehendak lahirnya IMM. Kekrisisan jati diri dan identitas ini yang sekiranya meresahkan sebagian kader ikatan yang mulai sadar akan perubahan fungsi yang berangsur-angsur transparan dan mulai kontras terhadap kondisi faktual.
Secara wujud, bentuk identitas IMM pada diri kader dapat dibagi menjadi 2 (dua), [1] Pertama, identitas Fisik, yakni identitas yang hanya mencakupi bentuk-bentuk fisis yang tampak dari tubuh kader IMM, yang meliputi semua bentuk atribut yang menunjukkan diri kader IMM secara fisis, seperti baju, topi, dsb, [2] Kedua, identitas Nilai, yakni identitas yang nampak dan menunjukkan dirinya sebgai kader IMM, melalui ucapan, sikap maupun pengabdian yang dilakukan seorang kader IMM dalam ikatan.
Adalah sangat baik andai jika kedua bentuk Identitas ini tertanam dalam diri setiap individu-individu yang mengisi rongga-rongga dalam ikatan. Namun pada kenyataannya tidaklah seperti itu. Dalam beberapa kasus contohnya, banyak kader IMM yang hanya sekedar menunjukkan Identitas Nilai Pengakuan dirinya dalam bentuk ucapan semata sebagai kader IMM, tetapi tidak disertai dengan perbuatan serta pengabdiannya terhadap IMM dan dikuatkan dengan Identitas Fisiknya. Padahal  yang terpenting dan diharapkan sebenarnya adalah bagaimana kontribusi yang besar dapat lahir dari bentuk pengakuan identitas diri, yang kemudian dikuatkan dengan Identitas Fisiknya sebagai kader IMM. Identitas Fisik dan Identitas Nilai Pengakuan diri sebenarnya hanyalah bentuk penunjang agar ghirahnya dalam mengejar cita-cita kehidupan IMM yang diimpi-impikan bersama dapat selalu ter-UpGrade secara berkala, sehingga Identitas Fisik dan Identitas Nilai ini tidak hanya sekedar bentuk pengakuan diri, melainkan timbul Identitas Nilai yang Terakui. Hal inilah yang menjadi penting sebenarnya, bagaimana ensistensinya sebagai kader IMM dapat diakui pihak lain dengan bentuk kontribusinya terhadap ikatan sehingga eksistensinya sebagai kader terakui.
Dari kasus ini, perlu dipertanyakan pula bahwa sebenarnya, Apa yang menjadi Identitas sesungguhnya bagi kader IMM? Apa kaitannya identitas-identitas pribadi kader IMM sekaligus tujuannya ber-IMM dengan Identitas Qadim pada IMM?? Bagaimana sesungguhnya wujud identitas itu lantas dapat diterapkan dalam ber-IMM??? Jika sudah dirasuki oleh ideologi IMM, lantas apakah kader sudah dapat menggunakan ideologi itu sebagai identitas dirinya?? Di sini yang patut digaris bawahi dan menjadi jawaban abstrak dari semua pertanyaan di atas adalah “Seberapa jauh ideologi IMM telah merasuki dan terdoktrin dalam tubuh kader IMM itu sendiri”.
Pengertian Ideologi pada dasarnya memang hanyalah sebatas gagasan dasar yang dihayati sebagai pegangan dan pola pandang terhadap sesuatu. Namun jika didinamisasikan dalam konteks ideologi IMM, pengertian ideologi bukan lagi menjadi esensi aslinya sebagai arti ideologi, tetapi pengertian ini berganti wujud sesuai dengan wadah yang telah dibentuk atas kehendak IMM itu sendiri. Seperti bentuk air yang senantiasa selalu mengikuti bentuk wadahnya, begitulah bentuk ideologi dalam perspektif IMM. Maksudnya, ideologi IMM bukanlah hanya sekedar pegangan yang mendasari pergerakan IMM yang harus dihafalkan tulisannya, namun sadar tidak sadar ideologi IMM memiliki dualisme peranan, yang disamping berfungsi sebagai motor penggerak di IMM, tetapi juga berfungsi sebagai karakter diri (dalam artian Identitas diri) seluruh kader IMM. Hal inilah yang sering terlupakan oleh kader IMM.
Religius, Intelektual dan Humanis. Ketiga aspek inilah yang menjadi ciri khas bagi diri kader IMM. Disamping menjadi tujuan bahwa kader IMM haruslah religius, berintelektual tinggi serta berjiwa Humanis, ketiga aspek ini setidaknya merangkap pula sebagai karakter diri sehingga terpancar identitas diri kader IMM sebagai Identitas Nilai yang terakui.
Yang terpenting dari semuanya adalah, Identitas Diri kader IMM tidak hanya sekedar menunjukkan eksistensi diri dari segi Identitas Fisik semata (berpenampilan), tetapi juga yang paling penting adalah dari segi Identitas Nilai yang lahir karena diakui (terakui & bukan mengakui), yang berangkat dari penerapan Trilologi sehingga memancarkan karakteristik yang menjadi identitas diri kader yang sesungguhnya.

About the Author

wahyu

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

Post a Comment

 
Wahyu Noer UAD © 2015 - Designed by Templateism.com