Thursday, March 19, 2015

GERAKAN TRANSFORMASI SOSIAL NYAI AHMAD DAHLAN SEBAGAI PELOPOR PEMBERDAYAAN DAN KESETARAAN WANITA

A.      Biografi Nyai Dahlan
 
     Dari sisi Historical Establishment (sejarah pendirian), gegap gempita perkembangan yang sangat pesat yang dialami Organisasi Masyarakat Islam Muhammadiyah saat ini tentu tidaklah lepas dari perjuangan punggawa-punggawa pendirinya terdahulu. Ormas islam yang mengemban misi sosial, dakwah dan kemanusiaan ini juga lahir berkat perjuangan seorang tokoh wanita yang seharusnya patut diperhitungkan. Sejauh ini, masyarakat lebih mengenal tokoh-tokoh pendiri Muhammadiyah ini hanyalah dari kalangan pria, seperti KH. Ahmad Dahlan, Ki Bagus Hadikusumo, AR Fachrudin dan lain sebagainya. Namun dalam sejarahnya, kontribusi yang tak kalah besarnya juga ikut diberikan oleh salah seorang kaum hawa yang tak lain ialah istri dari pendiri Muhammadiyah itu sendiri, Nyai Dahlan.
       Jika sedikit melihat sejarah, sumbangsih tenaga dan pikiran yang diberikan Nyai Dahlan ketika itu tak kalah besar dibandingkan dengan suami tercintanya, KH. Ahmad Dahlan. Sebagai kaum hawa, secara intensif beliau hadir sebagai pelopor penggerak bagi kaum wanita yang melakukan suatu transformasi sosial yang berdampak pada perbaikan hidup masyarakat, khususnya kaum wanita. Alhasil, lahir sebuah pergerakan kaum wanita yang berada pada kalangan Muhammadiyah saat itu yang kemudian kita kenal sekarang dengan nama Aisyiyah.
     Memiliki nama kecil Siti Walidah, Nyai Dahlan dilahirkan pada tahun 1872 M dan dibesarkan di Kampung Kauman, Yogyakarta (Indonesia bernama Hindia Belanda saat itu). Dari segi keturunan (nasab), Nyai Dahlan berasal dari kalangan terhormat. Beliau merupakan putri dari Kyai Penghulu H. Muhammad Fadli bin Kyai Penghulu Haji Ibrahim bin Kyai Muhammad Hassan Pengkol bin Kyai Muhammad ‘Ali Ngraden Pengkol. Sebagai anak dari pejabat (ayahnya juga seorang penghulu kraton Ngayogyokarto), Siti Walidah menjadi putri ‘pingitan’ dan cukup dihormati masyarakat sekitarnya. Dari pernikahan Kyai Muhammad Fadhil dengan Nyai Mas melahirkan tujuh orang anak, yakni Kyai Lurah Nur, H. Ja’far, Siti Munyinah, Siti Walidah, H. Dawud, Kyai H. Ibrahim, dan Kyai H. Zaini. Siti Walidah dalam relasi kekeluargaan ini adalah keturunan yang keempat dari Kyai Muhammad Fadhil. 
     Dalam kondisi orang tua sebagai Abdi Dalem Kraton, Nyai Walidah menjadi puteri pingitan yang pergaulannya sangat terbatas. Beliau tidak belajar di sekolah formal karena mengkaji Alquran dan ilmu agama dipandang cukup oleh keluarganya pada masa itu. Hampir setiap hari, sebagaimana umumnya penduduk Kampung Kauman, Nyai Walidah belajar Alquran dan kitab-kitab agama berbahasa Arab Jawa (pegon). Dia adalah sosok yang sangat giat menuntut ilmu, terutama ilmu-ilmu keislaman. Semangat menuntut ilmu yang dimiliki Nyai Walidah meruntuhkan rasa malunya. Meski berusia di atas empat puluh tahun Nyai Walidah masih mau belajar membaca dan menulis Latin bersama teman-temannya. Beliau belajar kepada ibu Tjitrosoebono, istri S. Tjitrosoebono.
      Pada tahun 1889 atau sekitar usia 17 tahun, Nyai Walidah dinikahkan dengan Mohammad Darwis atau yang lebih dikenal dengan KH. Ahmad Dahlan. Darwis bagi Nyai Walidah tergolong keluarga dekat, karena dia adalah saudara sepupunya sendiri. Darwis dalam silsilahnya adalah keturuanan Kyai. H. Abu Bakar, khatib Amin Masjid Agung Kraton Yogyakarta. Siti Aminah, istri Kyai H. Abu Bakar adalah bersaudara dengan ayahnya Siti Walidah, penghulu Muhammad Fadhil. Mereka berdua adalah anak dari Kyai H. Ibrahim yang pernah menjabat sebagai Penghulu Kraton Yogyakarta. 
      Setelah menikah dengan KH. Ahmad Dahlan beliau pun menyertai perjuangan suaminya dalam suka dan duka. Nyai Walidah mendampingi suaminya pada waktu berdakwah di Banyuwangi dan diancam penduduk Banyuwangi akan membunuhnya, apabila dakwahnya diteruskan. Dakwah tetap diadakan dan sebagai hasilnya di Banyuwangi berdiri cabang Muhammadiyah. Sesuai dengan uraian yang diterima dari suaminya, Nyai Walidah mulai berusaha mendirikan organisasi wanita. Sebagai langkah permulaan, ia mengumpulkan beberapa orang pemudi dari kalangan keluarga sendiri yang kemudian diperluas dengan puteri-puteri tetangganya. Saat itu Nyai Walidah mulai terlibat di Muhammadiyah dan turut merintis sebuah majelis pengajian khusus wanita yang diberi nama Sopo Tresno (siapa cinta) tahun 1914.
    Perkumpulan Sopo Tresno yang digawangi Nyai Walidah ini terus berkembang. Tidak hanya mengkaji masalah-masalah keagamaan, majelis ini juga turut mengkaji berbagai macam problematika kehidupan yang terjadi di masyarakat, misalnya pentingnya bagi kaum wanita untuk turut serta berperan aktif dalam proses-proses pembangunan dan pemberdayaan potensi kaum wanita secara universal dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. 
      Melihat kemajuan pesat yang dialami perkumpulan Sopo Tresno ini, kemudian muncul usulan dari KH. Ahmad Dahlan, Kyai Muhtar, Ki Bagus Hadikusumo, dan beberapa pendiri Muhammadiyah lainnya untuk mengubah Sopo Tresno menjadi sebuah organisasi besar khusus bagi kaum hawa. Banyak usulan nama pengganti untuk Sopo Tresno pada saat itu, seperti nama “Fatimah”. Namun beberapa orang diforum tersebut tidak menyepakatinya. Tetapi tak lama kemudian muncul usulan nama dari Kyai Fachruddin. Beliau mengusulkan nama “Aisyiyah”. Beberapa perbincangan sempat terjadi guna membahas usulan nama tersebut, namun semua pihak yang hadir pada saat itu menyepakati nama Aisyiyah sebagai nama pengganti Sopo Tresno, yang akhirnya pada tanggal 22 April 1917 Aisyiyah resmi menjadi salah satu organisasi otonom Muhammadiyah.
    KH. Ahmad Dahlan dan Nyai Walidah menjadikan Surah An Nahl ayat 97 sebagai semangat pemikiran dan landasan yang digunakan untuk mendirikan Aisyiyah. Nyai Dahlan sangatlah menyadari bahwa tugas dakwah menjadi tanggung jawab laki-laki dan perempuan. Dalam  Surah AN Nahl ayat 97, Allah SWT telah menjanjikan kepada kaum laki-laki dan perempuan kehidupan yang baik yang mengerjakan amal saleh  dan diberikan pula balasan berupa pahala yang lebih baik dari yang telah dikerjakan. Dalam Surah dan ayat tersebut juga mengingatkan kepada kita bahwa laki-laki dan perempuan memiliki tugas yang sama dalam menyebarkan agama islam dan yang lebih penting lagi baik laki-laki dan perempuan akan ditanya apa saja yang telah dilakukannya di dunia ini. 
   Diantara kegiatan Aisyiyah pada tahun-tahun pertama diresmikan adalah : 1. Mengirim para mubalighat ke perkampungan pada bulan Ramadhan untuk memimpin Shalat Tarawih. 2. Mengadakan perayaan hari-hari besar islam. 3. Mengkursus islamkan dan diajarkan berbagai keterampilan kepada pekerja-pekerja dan istri-istri pegawai di kampung. Hingga kini tak hanya kegiatan rutin yang dilakukan ortom Aisyiyah, tetapi juga terdapat puluhan amal usaha telah dijalankan demi menunjang dan memberi kesejahteraan, terutama bagi warganya dan masyarakat umum lainnya.
   Hingga dimasa awal revolusi, diusianya yang mulai senja beliau tetap gentar berusaha memperjuangkan kestabilan sosial masyarakat serta tetap giat membantu perjungan untuk mendukung tentara yang sedang bertempur di medan perang melawan penjajah. Beliau menganjurkan kaum wanita agar mendirikan dapur umum untuk para pejuang kemerdekaan. Nyai Walidah juga dikenal sebagai salah satu tokoh wanita yang rajin bertukar pikiran tentang perjuangan dengan Presiden Repoblik Indonesia yaitu bapak bangsa, Soekarno Muhammad Hatta dan Jendral Sudirman. Dan di usianya yang ke 74 tahun tepatnya pada 31 Mai 1946 beliau menghembuskan nafas terakhirnya di Yogyakarta yang kemudian dimakamkan di sana. Atas jasa-jasanya kepada Negara. Nyai H. Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan)  diberi gelar Pahlawan Nasional. SK Presiden Republik Indonesia No. 042/TK/Tahun/1971/Tanggal 22 September 1971.

B. Kiprah dan Pemikiran
  
    Seperti yang telah dikisahkan di atas, kiprah Nyai Dahlan tidak dapat diragukan lagi dalam membangun dan menyadarkan kaum wanita supaya ikut mengambil peran dalam kehidupan sosial. Selain itu, beliau juga aktif dalam meningkatkan pendidikan khususnya masyarakat Muhammadiyah.
    Di tengah dominasi kaum pria saat itu, dimana kaum wanita hanya memandang pekerjaan dapur dan urusan rumah tangga lainnya, Nyai Dahlan mampu mendobrak tradisi di tengah kebekuan sikap dan paradigma yang dogmatis kala itu. Pembatas yang membuntukan pandangan kaum hawa, bahwa mereka hanyalah kaum wanita, yang berarti pekerjaannya ya hanyalah mengurusi suami dan anak dirumah. 
      Pada tahun 1918, sebuah sekolah bernama Volk School (sekolah Dasar 3 Tahun) Muhammadiyah Kauman dikembangkan menjadi dua sekolah yaitu bagian khusus laki-laki dan bagian khusus wanita. Bagi laki-laki dipisahkan tempatnya di kampung Suronatan menenpati tanah pemberian Sultan dengan nama Standar School Muhammadiyah (Sekolah Dasar 5 Tahun). Sementara untuk pendidikan wanita tetap di Kauman dengan status seperti semula, hanya diubah namanya menjadi Sekolah Pawiyatan.
      Dalam kondisi di atas (diskriminasi pendidikan terhadap kaum wanita), Nyai Dahlan mempunyai ide mendirikan asrama khusus bagi kaum wnaita. Meski pendidikan formal waktu itu telah dikelola Muhammadiyah, namun Nyai Dahlan memiliki pikiran lain. Untuk menyempunkan pendidikan bagi kaum wanita, nampaknya perlu diadakan pendidikan non formal atau asrama (pondok). Sistem asrama memang sudah ada pada saat itu, namun hanya khusus untuk kaum pria saja. Nyai Dahlan menilai asrama untuk wanita juga sangat diperlukan. 
     Sejak saat itulah, banyak kaum wanita yang bersekolah khususnya di sekolah pawiyatan, namun kepentingan pendidikan di luar rumah, terutama untuk kejuruan, umumnya masih diabaikan oleh orang tua. Asrama yang didirikan oleh Nyai Ahmad Dahlan diharapkan dapat mendidik kaum wanita khususnya dalam bidang pendidikan agama dalam segala hal tak lupa pula bidang keputriannya. “Sepi ing pamri”, begitu konsep pemikiran yang melandasi semangat Nyai Dahlan dalam melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan, seperti berdakwah, beribadah, maupun berderma. Hal tersebut secara konsisten beliau tunjukkan dalam tabligh-tablighnya ke luar daerah yang kadangkala harus menempuh perjalanan yang sulit.
    Jika diingat-ingat kembali masa-masa perjuangan Nyai Dahlan dalam memperjuangkan lahirnya cendekiawan-cendekiawan wanita, tak cukup jika diceritakan dalam tulisan ini. Sebab banyak kisah-kisah menarik yang memotivasi kita untuk menirukan ghirahnya. Menjelang wafatnya, Nyai Dahlan sempat berfatwa, “Saya titipkan Muhammadiyah dan Aisyiyah kepadamu sebagaimana almarhum KH. Ahmad Dahlan menitipkannya. Menitipkan berarti melanjutkan perjuangan umat Islam Indonesia ke arah perbaikan hidup bangsa Indonesia yang berdasarkan cita-cita luhur mencapai kemerdekaan”. Oleh karena itu, Muhammadiyah dan Aisyiyah tidak dapat dipisahkan dari perjuangan seluruh rakyat Indonesia untuk mencapai masyarakat yang beradab, adil dan makmur. 
PETA PEMIKIRAN NYAI DAHLAN

About the Author

wahyu

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

Post a Comment

 
Wahyu Noer UAD © 2015 - Designed by Templateism.com